Jumat, 10 Juni 2016

MAKALAH KETERAMPILAN MENYIMAK (Bahasa Indonesia)



MAKALAH
KETERAMPILAN MENYIMAK
Makalah ini untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Drs. Suwandi, MPd.

Penyusun:
1.            Anisatul Mahmudah (1401415187)
2.            Abdul Aziz (1401415322)
3.            Alief Alfullayali (1401415310)


Fakultas Ilmu Pendidikan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar UPP Tegal
Universitas Negeri Semarang
2016


PRAKATA

            Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah “KETERAMPILAN MENYIMAK” dapat terselesaikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Soewandi, MPd., selaku dosen mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia yang telah memberikan ilmunya kepada penulis, dan teman- teman yang banyak memberikan masukkan dan informasi, juga kepada semua pihak yang tidak dapat  disebutkan satu per satu.
Saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan makalah ini agar dalam penulisan makalah selanjutnya bisa lebih baik dari makalah sekarang.Semoga makalah ini memberi manfaat bagi yang membacanya.

            Tegal, 9 Maret 2016
                                                                                                                                               
Penulis                    `          









DAFTAR ISI
Kata Pengantar           ……………………………………………………    i
Daftar Isi         ……………………………………………………………    ii
BAB I PENDAHULUAN     ……………………………………………    1
A.      LatarBelakang      ……………………………………………………    1
B.       Rumusan Masalah            ……………………………………………    2
C.       Tujuan      ……………………………………………………………    2
D.      Manfaat                ……………………………………………………    2
BAB II PEMBAHASAN      …………………………………………….   3
A.      Penertian Menyimak        …………………………………………….   3
B.       Tujuan Menyimak.           ……………………………..………………  4
C.       Jenis-jenis Menyimak       ……………………………………………    4
D.      Unsur-unsur Menyimak   …...……………………………………….    10
E.       Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak     ……………..  12
BAB III PENUTUP
A.      Kesimpuulan        ……..………………………………………………  13
DAFTAR PUSTAKA            ….………………………………………….  14


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Istilah mendengarkan, mendengar, dan menyimak sering kita jumpai dalam dunia pengajaran bahasa, lebih-lebih dalam pengajaran keterampilan berbahasa. Satu hal yang sudah disepakati bersama ialah bahwa ketiga istilah itu berkaitan dengan dalam makna. Namun dalam mengartikan makna istilah tersebut satu persatu, mulai muncul perbedaan pendapat.  Ada yang menganggap mendengarkan sama dengan menyimak. Kedua duanya dapat dipertukarkan dengan makna yang sama. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa pengertian mendengarkan dan menyimak tidak sama. Artinya masing masing istilah itu berdiri sendiri dengan makna yang berbeda pula.
Peristiwa mendengar, biasanya, terjadi secara kbetulan, tiba-tiba, dan tidak diduga sbelumnya. Karena itu kegiatan mendengar tidak direncanakan. Apa yang didengar mungkin tidak dimngerti maknanya dan mungkin pula tidak menjadi perhatan sama sekali. Mendengarkan setingkat lebh tinggi tarafnya dari mendengar. Mendengarkan sudah mencakup mendengar. Di antara ketiga istilah, mendengar, mendengarkan, dan menyimak, taraf tertinggi diduduki istilah menyimak. Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bahka lebih dari itu faktor perhatian, penilaian pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak. Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan adalah ada alasan tertentu mengapa yang bersangkutan meyimak. Alasan inilah yang  kita sebut sebagai tujuan menyimak.





B.     Rumusa Masalah
1.      Apa pengertian menyimak?
2.      Apa tujuan menyimak?
3.      Apa saja jenis-jenis menyimak?
4.      Apa unsure yang harus aada pada kegiatan menyimak?
C.     Tujuan
Dengan dibuatnya makalah ini bertujuan sebagai:
1.      Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ketrampilan Bahasa Indonesia
2.      Mengetahui perbedaan antara mendengar, mendengarkan, dan menyimak
3.      Mengetahui tujuan dalam kegiatan menyimak
4.      Mengetahuinjenis-jenis menyimak
5.      Mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada menyimak
D.    Manfaat
Manfaat yang bisa diperoleh dari penyusunan makalah ini :
1.      Sebagai media untuk belajar, karena untuk mencari materinya bisa berasal dari sumber lain seperti buku ataupun browsing.
2.      Melatih kedisiplian karena harus selesai tepat waktu.
3.      Mengembangkan pikiran kita untuk tidak terpaku pada satu sumber referensi saja.












BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Menyimak
Menurut para ahli
Ø  Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (panduan bahasa dan sastra Indonesia, Natasasmita Hanapi, Drs.; 1995: 18)
Ø  Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan; 1991: 4).
Ø  Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan-lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan”. (Tarigan: 1983)
Ø  Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya”.(Sabarti –at all: 1992).
Jadi  menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengrkan, mengidentifikasi bunyi bahasa, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.
Dalam setiap fase menyimak diperlukan kemampuan tertentu yang dikenal dengan istilah kemampuan penunjang menyimak, antara lain:
1.      Kemampuan memusatkan perhatian
2.      Kemampuan Mengingat
3.      Kemampuan Menangkap bunyi
4.      Kemampuan Linguistic
5.      Kemampuan Non linguistic
6.      Kemampuan Menilai
7.      Kemampuan menanggapi
B.     Tujuan Menyimak
Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang tersirat dalam bahan simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Menyimak memperoleh fakta
2.      Untuk menganalisis fakta
3.      Untuk mengevaluasi fakta
4.      Untuk mendapatkan inspirasi
5.      Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri
6.      Meningkatkan kemampuan berbicara

Menyimak sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Karena itu tidaklah mengherankan apabila aktifitas menyimak selalu melebihi kegiatan berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak berperan sebagai:
1.      Landasan belajar berbahasa
2.      Penunjang keterampilan berbahasa lainnya
3.      Pelancar komunikasi lisan
4.      Penambah informasi.

C.     Jenis-jenis Menyimak
Apabila kita membaca dan memperhatikan berbagai buku literature mengenai menyimak, maka akan ditemui jenis dan nama menyimak. Misalnya menyimk terputus-putus, menyimak dangkal, menyimak sekelumit, menyimak sosial, menyimak krits, menyimak reponsif, dan sebagainya. Keanekaragaman nama menyimak disebabkan oleh pengklasifiksin menyimak dengan titik pandang yang berbeda.
Menurut pengamatan penulis, ada 7 titik pandang yang digunkan sebagai dasar pengklsifiksian menyimak, antara lain: sumber suara, taraf aktifitas penyimak, taraf hasil simakan, keterlibatan penyimak, dan kemampuan khusus, cara penyimakan dan bahan simakan, ujuan menyimak, tujuan spesifik. Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
1.      Sumber suara
Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
Ini terjai di saat kita menyendiri, merenungkan nasib diri, menyesali perbuatan sendiri, berkata-kata dengan diri sendiri.
b. Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi
Menyimak yang seperti ini ang paling bnyak kita lakukan, misalnya dalam percakapan, diskusi, seminar, dan sebagainya.
2.      Cara penyimak bahan yang disimak
Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
a.       Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah penyimak memahami isi bahan simakan secara sepintas, umum, dalam garis-garis besar. Menyimak ekstensif meliputi:
1) Menyimak sosial
Menyimak sosial dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial, seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. Kegiatan menyimak ini lebih menekankan pada faktor status sosial, unsur sopan santun. dan tingkatan dalam masyarakat. Misalnya: Seorang anak jawa menyimak nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran.
2) Menyimak sekunder
Menyimak sekunder terjadi secara kebetulan. Misalnya, jika seorang pembelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orng lain, suara siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara tersebut.
3) Menyimak estetik
Menyimak estetika sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika ialah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu. Misalnya, menyimak pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, syair lagu, dan sebagainya. Kegiatan menyimak itu lebih menekankan aspek emosional penyimak seperti dalam menghayati dan memahami sebuah pembacaan puisi. Dalam hal ini, emosi penyimak akan tergugah, sehingga timbul rasa senang terhadap puisi tersebut. Demikian pula pembacaan cerita pendek. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang pengarang terkenal Gunawan Mohammad yang sering membacakan cerpen-cerpennya melalui radio. Banyak remaja mendengarkan pembacaan tersebut. Para remaja tampaknya dapat menikmati dan menghayati cerpen yang dibacakan tersebut.
4) Menyimak Pasif
Menyimak pasif ialah menyimak suatu bahasan yang dilakukan tanpa upaya sadar. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir memahami pesan dalam bahasa daerah tersebut. Kemudian, dia mahir pula menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak pasif. Namun, pada akhirnya, orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik. Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif terjadi karena kebetulan dan ketidaksengajaan.

b.       Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.Ciri-ciri menyimak intensif adalah:
1)      Menyimak dengan memahami makna pembicaraan
2)      Memerluhan konsentrasi tinggi
Konsentrasi ialah memusatkan sermua gejala jiwa seperti pikiran, perasaan, ingatan, perhatian, dan sebagainya kepada salah satu objek. Agar penyimak dapat melakukan konsentrasi yang tinggi, maka perlu dilakukan, dengan beberapa cara, antara lain menjaga agar pikiran tidak terpecah, perasaan tenang dan tidak bergejolak, perhatian. terpusat pada objek yang sedang disimak, penyimak harus mampu menghindari berbagai hal-hal yang dapat menggangu kegiatan menyimak, baik internal maupun ekstenal.
3)  Memahami bahasa formal
4)  Menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan.
Reproduksi ialah kegiatan mengungkapkan kembali sesuatu yang telah dipahami. Untuk membuat reproduksi dapat dilakukan secara lisan (berbicara) dan tulis (menulis, mengarang). Reproduksi dilakukan setelah menyimak. Fungsi reproduksi itu antara lain:
1.      Mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan berbicara
2.      Mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan menulis atau mengarang
3.      Mengetahui kemampuan daya serap seseorang
4.      Mengetahui tingkat pemahaman seseorang tentang bahan yang telah disimak.
Menyimak intensif meliputi:
1)      Menyimak kritis: Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara, misalnya dalam diskusi,   perdebatan, dan lain-lain.
2)      Menyimak introgatif. Kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut.
3)      Menyimak eksploratif. Kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru.
4)      Menyimak kreatif. Kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas pembelajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau bahasa daerah, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda. bahasa Jerman. dan sebagainya, mengemukakan gagasan yang sama dengan pembicara. namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang berbeda, merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar materi yang telah disimak.
5)      Menyimak konsentratif. Kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang disimak. Kegiatan menyimak konsentratif bertujuan untuk mengikuti petunjuk-petunjuk, mencari hubungan antarunsur dalam menyimak, mencari hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen, mencari butir-butir informasi penting dalam kegiatan menyimak, mencari urutan penyajian dalam bahan menyimak, dan mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak (Kamidjan,2001:23).
6)      Menyimak selektif. Menyimak selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus untuk mengenal, bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk, bahasa yang sedang dipelajarinya. Menyimak selektif memiliki ciri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan menyimak yang lain. Adapun ciri menyimak selektif ialah:
(a)    Menyimak dengan saksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan
(b)    Menyimak dengan memperhatikan topik-topik tertentu
(c)    Menyimak dengan memusatkan pada tema-tema tertentu.

            Tidyman & Butterfield mengklasifikaikan menyimak atas dasar tujuan menyimak. Hasil pengklasifikasian menghasilkan tujuh jenis menyimak yaitu:
1)      Menyimak sederhana: Terjadi dalam percakapan dengan teman atau bertelepon.
2)      Menyimak diskriminatif: Menyimak untuk membedakan suara dan perubahan suara.
3)      Menyimak santai: Menyimak untuk tujuan kesenangan.
4)      Menyimak informatif : menyimak untuk mencari informasi.
5)      Menyimak literatur : menyimak untuk mengorganisasikan ide.
6)      Menyimak kritis: menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara.


c.       Taraf aktivitas penyimak
  Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:
  1) Kegiatan menyimak bertaraf rendah( silent listening )
Penyimak baru sampai pada kegiatan memberikan dorongan, perhtian,dan menunjang pembicaraan. Biasana aktifitas itu bersifat non verbal   seperti mengangguk angguk, senyum, sikap tertib dan penuh perhtian dan sebagainya.

2) Kegiatan menyimak bertaraf tinggi( active listening ): Penyimak sudah dapat pengutarakan kembali isi bahan smakan.

D.    Unsur Unsur Menyimak
Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada berbagai unsur yang mendukung. Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah unsur pokok yang menyebabkan timbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain. Unsur-unsur dasar menyimak ialah  pembicara, penyimak, bahan simakan, dan bahasa lisan yang digunakan. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing unsur itu.
1.         Pembicara: Yang dimaksudkan dengan pembicara ialah orang yang menyampaikan pesan yang berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak. Dalam komunikasi lisan, pembicara ialah narasumber pembawa pesan, sedang lawan bicara ialah orang yang menerima pesan (penyimak).
2.         Penyimak. Penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak yang baik ialah penyimak yang dapat melakukan kegiatan menyimak dengan intensif.
3.         Bahan Simakan. Bahan simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak. Yang dimaksudkan dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam komunikasi. Untuk menghindari kegagalan, perlu dikaji ulang.Bahan simakan dengan cara berikut:
a.       Menyimak Tujuan Pembicara
Langkah pertama penyimak dalam melakukan kegiatan menyimak ialah mencari tujuan pembicara. Jika hal itu telah dicapai, ia akan lebih gampang untuk mendapatkan pesan pembicara. Jika hal itu tidak ditemukan, ia .akan mengalami kesulitan. Tujuan yang akan dicapai penyimak ialah untuk mendapatkan fakta, mendapatkan inspirasi, menganalisis gagasan pembicara, mengevaluasi, dan mencari hiburan.
b.      Menyimak Urutan Pembicaraan
Seorang penyimak harus berusaha mencari urutan pembicaraan. Hal itu dilakukan untuk memudahkan penyimak mencari pesan pembicara. Walaupun pembicara berkata agak cepat, penyimak dapat mengikuti dengan hati-hati agar mendapatkan gambaran tentang urutan penyajian bahan. Urutan penyajian terdiri atasa tiga komponen, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan lingkup permasalahan yang akan dibahas. Bagian isi terdiri atas uraian panjang lebar permasalahan yang dikemukakan pada bagian pendahuluan. Pada bagian penutup berisi simpulan hasil pembahasan.
c.       Menyimak Topik Utama Pembicaraan
Topik utama ialah topik yang selalu dibicarakan, dibahas, dianalisis s pembicaraan berlangsung. Dengan mengetahui topik utama, penyimak memprediksi apa saja yang akan dibicarakan dalam komunikasi tersebut. penyimak satu profesi dengan pembicara, is tidak akan kesulitan untuk mener topik utama. Sebuah topik uta.-na memiliki ciri-ciri: menarik perhatian pen) bermanfaat bagi penyimak, dan akrab dengan penyimak.


d.      Menyimak Topik Bawahan
Setelah penyimak menemukan topik utama, langkah selanjutnya ialah mencari topik-topik bawahan. Umumnya pembicara akan membagi topik utama itu menjadi beberapa topik bawahan. Hal itu dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat dengan mudah dicerna oleh penyimak. Penyimak dapat mengasosiasikan topik utama itu dengan sebuah pohon besar, topik bawahan ialah dahan dan ranting pohon tersebut. Dengan demikian penyimak yang telah mengetahui topik utama, dengan mudah akan mengetahui topik-topik bawahannya.
e.       Menyimak Akhir Pembicaraan
Akhir pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan, dan saran-saran. Jika pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak ialah mencermati rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pem bicara menyampaikan simpulan, maka penyimak mcncocokkan catatannya dengan simpulan yang disampaikan pembicara. Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang simpulan. yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak. Jika pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan himbuan itu secara cermat dan teliti.

E.     Faktor yang Mempenaruhi Keberhasilan Menyimak
Menurut pendapat Rost (1991:108) bahwa faktor-faktor yang penting dalam keterampilan menyimak dalam kelas adalah siswa menuliskan butir-butir penting bahan simakan terutama yang berhubungan dengan bahan simakan.
Pendapat lain menurut Tarigan (1994:62), komponen/faktor-fantor penting dalam menyimak adalah sebagai berikut:

1.      Membedakan antar bunyi fonemis.
2.      Mengingat kembali kata-kata.
3.      Mengidentifikasi tata bahasa dari sekelompok kata.
4.      Mengidentifikasi bagian-bagian pragmatik, eskpresi, dan seperangkat penggunaan yang berfungsi sebagai unit sementara mencari arti/makna.
5.      Menghubungkan tanda-tanda linguistik ke tanda-tanda para linguistik (intonasi) dan ke nonlinguistik (situasi yang sesuai dengan objek supaya terbangun makna, menggunakan pengetahuan awal (yang kita tahu tentang isi dan bentuk dan konteks yang telah siap dikatakan untuk memperkirakan dan kemudian menjelaskan makna.
6.      Mengulang kata-kata penting dan ide-ide penting.










BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan, mengidentifikasi bunyi bahasa, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Untuk mencapai hasil yang maksimal, diperlukan kemampuan penunjang menyimak. Adapun tujuan dari menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.











DAFTAR PUSTAKA
1.      Drs. Tarigan, Djago. Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan  Pendidikan Tinggi, 1991.


PENDIDIKAN KARAKTER

PENDIDIKAN KARAKTER

Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Sedangkan Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.
Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan ndividu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang dapat dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor lingkungan.
Faktor Pendidikan Karakter
Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi :
  1. Keteladanan
  2. Intervensi
  3. Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten
  4. Penguatan.
Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui prosespembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur
Pendidikan memang tak lepas dari makna dan definisi. Dalam dunia pendidikan banyak sekali istilah-istilah yang dipakai dan memerlukan pembahasan mengenai hal definisi atau pengertiannya. Pada blog pendidikan ini, Maswins for Educations, sebelum melangkah membahas mengenai pengertian-pengertian istilah dalam dunia pendidikan, ada baiknya jika terlebih dahulu membahas mengenai pengertian pendidikan itu sendiri.
Berikut adalah beberapa pengertian Pedidikan menurut Undang-Undang dan para ahli yang saya kutip dari beberapa sumber :
  1. Pendidikan Menurut UU Sisdiknas
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
  1. Pendidikan Menurut Carter V. Good
Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.
  1. Pendidikan Menurut Godfrey Thomson
Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.
  1. Pendidikan Menurut UNESCO
UNESCO menyebutkan bahwa: “education is now engaged is preparinment for a tife
Society which does not yet exist”
 atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,sekarang,dan masa datang.
  1. 5.      Pendidikan Menurut Thedore Brameld
‘’Education as power means copetent and strong enough to enable us,the majority of people,to decide what kind of a world‘’. (Pendidikan sebagai kekuatan berarti mempunyai kewenangan dan cukup kuat bagi kita, bagi rakyat banyak untuk menentukan suatu dunia yang macam apa yang kita inginkan dan macam mana mencapai tujuan semacam itu).
  1. Pendidikan Menurut Thedore Brameld
Robert W. richey menyebutkan bahwa; The term “Education” refers to the broad funcition of preserving and improving the life of the group through bringing new members into its shared concem. Education is thus a far broader process than that which occurs in schools. It is an essential social activity by which communities continue to exist. In Communities this function is specialzed and institutionalized in formal education, but there is always the education, out side the school with which the formal process is related. (Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah).

Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui – nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut :
1. Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal – melakukan apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara.
2. Recpect (Respek)
Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.
3. Responsibility  (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum bertindak – mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.
4. Fairness  (Keadilan)
Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan menyalahkan orang lain sembarangan.
5. Caring  (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang membutuhkan.
6. Citizenship  (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat,  menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
  • Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter

Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
  1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik
  2. memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
  3. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
    Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.

  • Nilai-nilai Pembentuk Karakter
Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
  1.      Jujur
  2.     Toleransi
  3.     Disiplin
  4.     Kerja keras
  5.     Kreatif
  6.     Mandiri
  7.     Demokratis
  8.     Rasa Ingin Tahu
  9.     Semangat Kebangsaan
  10.     Cinta Tanah Air
  11.     Menghargai Prestasi
  12.    Bersahabat/Komunikatif
  13.    Cinta Damai
  14.    Gemar Membaca
  15.   Peduli Lingkungan
  16.   Peduli Sosial
  17.   Tanggung Jawab
  18.   religius   
(Puskur. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.)
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan.Yaitu memberikan pendidikan karakterb pada anak didik. Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak mengatakan “ ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster:
  1. Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut.
  2. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru.
  3. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.
  4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam polapendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anakdidik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.
Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap. Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandukan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.
Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter. Segala sesuatu butuh proses, mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin.Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Karakter suatu bangsa merupakan aspek penting yang mempengaruhi pada perkembangan sosial-ekonomi. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakat tentunya akan menumbuhkan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsa. Pengembangan karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang dipercaya secara luas menyatakan “ jika kita gagal menjadi orang baik di usia dini, di usia dewasa kita akan menjadi orang yang bermasalah atau orang jahat”.
Thomas Lickona mengatakan “ seorang anak hanyalah wadah di mana seorang dewasa yang bertanggung jawab dapat diciptakan”. Karenanya, mempersiapkan anak adalah sebuah strategi investasi manusia yang sangat tepat. Sebuah ungkapan terkenal mengungkapkan “Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan 100% dari masa depan”. Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk membentuk karakter anak adalah sebelum usia 10 tahun. Diharapkan pembentukan karakter pada periode ini akan memiliki dampak yang akan bertahan lama terhadap pembentukan moral anak.
Efek berkelanjutan (multilier effect) dari pembentukan karakter positif anak akan dapat terlihat, seperti yang digambarkan oleh Jan Wallander, “Kemampuan sosial dan emosi pada masa anak-anak akan mengurangi perilaku yang beresiko, seperti konsumsi alkohol yang merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan sepanjang masa; perkembangan emosi dan sosial pada anak-anak juga dapat meningkatkan kesehatan manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap tekanan yang akan berdampak langsung pada proses penyakit; kemampuan emosi dan sosial yang tinggi pada orang dewasa yang memiliki penyakit dapat membantu meningkatkan perkembangan fisiknya.”
Sangatlah wajar jika kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik dasar–dasar moral pada anak. Akan tetapi banyak anak, terutama anak-anak yang tinggal di daerah miskin, tidak memperoleh pendidikan moral dari orang tua mereka.
Kondisi sosial-ekonomi yang rendah berkaitan dengan berbagai permasalahan, seperti kemiskinan, pengangguran, tingkat pendidikan rendah, kehidupan bersosial yang rendah, biasanya berkaitan juga dengan tingkat stres yang tinggi dan lebih jauh lagi berpengaruh terhadap pola asuhnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di daerah miskin 11 kali lebih tinggi dalam menerima perilaku negatif (seperti kekerasan fisik dan mental, dan ditelantarkan) daripada anak-anak dari keluarga yang berpendapatan lebih tinggi.
Banyak hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang telah mendapat pendidikan pra-sekolah mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak masuk ke TK, terutama dalam kemampuan akademik, kreativitas, inisiatif, motivasi, dan kemampuan sosialnya. Anak-anak yang tidak mampu masuk ke TK umumnya akan mendaftar ke SD dalam usia sangat muda, yaitu 5 tahun. Hal ini akan membahayakan, karena mereka belum siap secara mental dan psikologis, sehingga dapat membuat mereka merasa tidak mampu, rendah diri, dan dapat membunuh kecintaan mereka untuk belajar. Dengan demikian sebuah program penanganan masalah ini dibutuhkan untuk mempersiapkan anak dengan berbagai pengalaman penting dalam pendidikan prasekolah. Adalah hal yang sangat penting untuk menggerakkan masyarakat di daerah miskin untuk mulai memasukkan anaknya ke prasekolah dan mengembangkan lingkungan bersahabat dengan TK lainnya untuk bersama-sama melakukan pendidikan karakter.
Dorothy Law Nolte pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya. Lengkapnya adalah :
  • Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
  • Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
  • Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
  • Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyeasali diri
  • Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
  • Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
  • Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
  • Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
  • Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
  • Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Pendidikan Karakter untuk Kemajuan Bangsa

Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Kemajuan Bangsa

Ada kabar menarik dari SMP N 8 Yogyakarta. Dilansir dari krjogja.com (2015), SMP N 8 Yogyakarta menggelar uji kompetensi dalam bidang musik dengan pertunjukan ansamble. Alasan mengapa yang dipilih adalah ansamble, Kepala SMP N 8 Yogyakarta mengatakan bahwa mereka ingin memberikan pendidikan karakter melalui musik. Menurut dia, musik ansamble mengandung muatan kesantunan, kedisiplinan, dan kebersamaan. Lagu yang dimainkan pun telah ditentukan, yakni lagu-lagu dengan lirik yang memuat pendidikan karakter.
Berangkat dari kabar tersebut, nampak bahwa di Indonesia pendidikan karakter sudah diimplementasikan dalam pembelajaran. Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (dikutip dari kemendikbud.go.id., 2011), ada 18 nilai-nilai yang harus disisipkan dalam proses pendidikan di Indonesia. 18 nilai tersebut antara lain, religius, jujur, toleransi , disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri sebuah bangsa. Seperti yang disampaikan oleh Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Dr. R. Maryatmo MA. (dalam okezone.com, 2014), bahwa kecerdasan emosional, spiritual, dan kepribadian itu penting dalam membangun karakter yang tangguh, mandiri, aktif, kreatif dan berdedikasi tinggi.
Suratno MSi, Staf Pengajar Universitas Paramadina, Jakarta, menyampaikan (dalam tribunnews.com, 2014) bahwa istilah “pendidikan karakter” itu sendiri, muncul pada akhir abad 18, dicetuskan oleh pedagog Jerman, FW Foerster (1869-1966). Menurut Foerster, ciri-ciri pendidikan karakter itu meliputi: 1) menekankan setiap tindakan dengan berpedoman pada nilai normatif. Anak didik menghormati norma yang ada, 2) membangun rasa percaya diri, sehingga anak didik menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak takut pada situasi baru, 3) otonomi, anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar hingga menjadi nilai pribadinya, dan 4) keteguhan yang bermakna daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik dan loyalitas (kesetiaan) sebagai dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Dalam upaya memaksimalkan implementasi pendidikan karakter tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kemudayaan menerapkan beberapa strategi untuk penguatan pelaksanaannya. Strategi tersebut antara lain, memperkuat panduan pelaksanaan pendidikan karakter. Kemudian, mengakomodasi lembaga yang sudah melaksanakan pendidikan karakter walaupun dengan nama yang berbeda-beda, dan menguatkan kegiatan yang sudah ada di sekolah (dikutip dari kompas.com, 2013).
Memang dibutuhkan langkah dan strategi yang besar untuk menuju bangsa yang berkarakter, karena pendidikan karakter itu sangat penting untuk mendukung pembangunan bangsa. Seperti Presiden Ir. Soekarno pernah berkata, “There is no nation-building without character-building.” (Tidak akan mungkin membangun sebuah negara kalau pendidikan karakternya tidak dibangun). Ini menandakan betapa pentingnya pendidikan karakter atau pendidikan moral dalam membangun jati diri sebuah bangsa.

Rabu, 08 Juni 2016

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG HARMONIS

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG HARMONIS
Manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Manusia dikatakan makhluk sosial karena pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Dalam kehidupan sosial tidak akan lepas dari masyarakat atau orang sekitar. Menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat adalah salah satu tujuan seseorang dalam kehidupan sosial. Tapi permasalahannya,  selain sebagai makhluk sosial, manusia juga disebut sebagai makhluk individu. Manusia dibekali dengan akal, pikiran, dan emosi.  Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tertentu. Tidak ada manusia yang sama persis di dunia, bahkan manusia yang terlahir kembar pun memiliki  sifat yang berbeda.
Dalam menyikapi perbedaan, sering kali dalam suatu kelompok atau masyarakat menyikapinya dengan berlebihan. Tidak semua orang dalam kelompok tersebut bisa menerima perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Sering kali perbedaan tersebut menimbulkan diskriminasi dan konflik sehingga mengakibatkan hancurnya persaudaraan di masyarakat tersebut. Konflik tidak hanya terjadi antar individu, tapi juga sering terjadi antar kelompok. Masih sering terdengar berita tentang kekerasan antar kelompok, etnis, agama, dan lain-lain.
Konflik adalah salah satu masalah dalam membentuk kehidupan harmonis. Konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang salah satu pihaknya berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik bisa terjadi baik di lingkungan masyarakat atau bahkan di lingkungan keluarga. Karena sebenarnya konflik juga ada dalam lingkup keluarga. Sering kita dapati kejadian kekerasan dalam keluarga, seperti kasus kekerasan suami kepada istri, perselingkuhan, atau kekerasan pada anak. Kejadian-kejadian seperti ini dikarenakan kurangnya rasa percaya satu sama lain dan tidak ada rasa toleransi terhadap satu sama lain. Di lingkup yang lebih luas, konflik sering terjadi antar kelompok. Penyebabnya bisa karena perbedaan kepentingan, perbedaan budaya, dendam masa kau, dan lain-lain. Konflik antar kelompok yang sering menjadi masalah besar dalam membentuk kehidupan harmonis di lingkungan masyarakat. Dalam konflik ini biasanya muncul dua kubu atau lebih yang saling bertikai dan memisahkan diri. Dampak terjadinya konflik dalam masyarakat yang sering kita temukan adalah hancurnya persaudaraan dalam masyarakat tersebut, terkadang dalam konflik mengakibatkan korban jiwa, dan menimbulkan dampak psikologis yang negatif seperti rasa tertekan, stres, kehilangan rasa percaya diri, frustrasi, cemas, dan takut. Masalah lain dalam membentuk kehidupan harmonis di lingkungan masyarakat adalah diskriminasi. Diskriminasi adalah perilaku tidak adil terhadap individu atau kelompok tertentu. Diskriminasi terjadi karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain. Diskriminasi biasanya terjadi dari kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Karakteristik dasar dari diskriminasi biasanya adalah perbedaan kondisi fisik (normal atau cacat), suku, ras, golongan, kelamin, agama, aliran politik, atau perbedaan lainnya.
Untuk membentuk masyarakat yang harmonis harus dimulai dari diri kita. Kita harus mempunyai karakter sosial dalam diri kita. Pembentukan karakter sosial bisa didapatkan melalui pendidikan karakter. Karakter adalah etika yang berkaitan dengan kekuatan moral. Jadi, pendidikan karakter adalah pendidikan yang fokus pada pembentukan karakter siswa, mengembangkan potensi dasar siswa agar dapat berpikir baik dan berperilaku baik, membangun dan memperkuat perilaku bangsa multikultural, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif. Pendidikan karakter dapat diajarkan di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan melalui media masa. Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis, yaitu:
a)        Trustworthiness
Jujur, tidak menipu, melakukan hal yang benar, membangun reputasi diri yang baik, disiplin, mandiri, dan lain-lain.
b)        Respect
Toleransi, demokratis, bersahabat dan komunikatif, mempertimbangkan perasaan orang lain, tidak memukul atau menyakiti orang lain, dan lain-lain.
c)        Responsibility
Do the best, self controling, disiplin, berpikir sebelum bertindak, mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan, dan lain-lain.
d)       Fairness
Mengikuti aturan, berbagi, berpikiran terbuka, mendengarkan orang lain, tidak mengambil keuntungan dari  orang lain, tidak sembarang menilai orang lain, dan lain-lain.
e)        Caring
Cinta damai, bersikap penuh  kasih sayang, mengungkapkan rasa syukur, mampu memaafkan kesalahan orang lain, membantu orang yang membutuhkan, cinta tanah air, peduli lingkungan dan peduli sosial, dan lain-lain.
f)         Citizenship
Membangun hubungan baik dengan masyarakat, dapat bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang baik, menaati hukum dan aturan, dan lain-lain.
Di sekolah, pendidikan karakter dibutuhkan untuk memaksimalkan kemampuan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai adalah seorang pengusaha yang kaya raya tetapi tidak dermawan, seorang politikus tidak peduli pada orang di sekitarnya yang hidup miskin dan kelaparan, atau seorang guru yang tidak peduli pada anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah beberapa bukti tidak seimbangnya pendidikan kognitif dan pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter, kejadian-kejadian seperti ini akan diusahakan untuk diperbaiki.
Ada sebuah kata bijak, “ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Kata bijak itu sama saja mengatakan keterampilan kognitif akan buta dan lumpuh tanpa pendidikan karakter. Ada empat ciri dasar  pendidikan karakter yang dirumuskan oleh FW Foerster sebagai pencetus pendidikan karakter, yaitu
a)        Pendidikan karakter fokus pada tindakan yang berpedoman terhadap nilai normatif. Artinya seseorang harus menghormati norma-norma yang ada dan hidup berpedoman pada norma-norma tersebut.
b)        Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian. Jadi seseorang akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak takut mengambil resik setiap menghadapi setiap situasi.
c)        Adanya otonomi. Seseorang akan mempelajari dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya, sehingga orang tersebut bisa mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain.
d)       Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan seseorang dalam mewujudkan apa yang dipandang baik, dan kesetiaan adalah dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Pendidikan karakter sangat penting untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup di masyarakat karena di dalamnya terkandung pembentukan karakter yang berorientasi pada nilai-nilai  sosial seperti  toleransi, kebersamaan, gotong-royong, rasa saling menghormati, dan lain-lain. Pendidikan karakter juga memperhatikan perkembangan emosi dan kemampuan sosial seseorang. Perkembangan emosi dan kemampuan sosial adalah dua dari berbagai hal yang dibutuhkan seseorang untuk hidup di lingkungan masyarakat. Diharapkan dengan adanya pendidikan karakter yang diajarkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat maka kejadian seperti konflik dan diskriminasi bisa diminimalkan, sehingga kehidupan harmonis di lingkungan masyarakat dapat  terwujud.