Jumat, 10 Juni 2016

Makalah Bahasa Indonesia EFEKTIVITAS MENYIMAK, PENYIMAK IDEAL, DAYA DUGA SIMAK, DAN MENINGKATKAN DAYA SIMAK









EFEKTIVITAS MENYIMAK, PENYIMAK IDEAL, DAYA DUGA SIMAK, DAN MENINGKATKAN DAYA SIMAK

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia
Dosen pengampu : Drs. Suwandi, M.Pd.





Kelompok 2 :
1.     Angga Rahmadhani
2.     Lutfi Indriyani
3.     Emi
4.     Afrianti Wulandari





PROGRAM STUDI PGSD
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015/2016

PRAKARTA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,rahmat dan ridho-Nya,penulis berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul ”Efektivitas Menyimak, Penyimak Ideal, Daya Duga Simak, dan Meningkatkan Daya Simak”.
Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di jurusan S1 PGSD UPP Tegal Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Penulisan makalah ini tak lepas dari peran serta berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapakan terima kasih kepada :
1.      Bapak Drs. Utoyo, M.Pd selaku koordinator UPP kampus Tegal.
2.      Bapak Drs. Suwandi, M.Pd.selaku dosen mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia.
3.      Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Penulis berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin…

Tegal, 23 Maret 2016

                                                                                                                                                                                                                       

 Penulis



















DAFTAR ISI

HALAMAN KULIT............................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
RINGKASAN...................................................................................................... iv
PENDAHULUAN............................................................................................... 1
Latar Belakang................................................................................................ 1
Tujuan Program............................................................................................... 2
Manfaat Program............................................................................................. 2
GAGASAN.......................................................................................................... 3
SIMPULAN.......................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 8
LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................. 9
Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota, dan Dosen Pembimbing........................... 9
Lampiran 2. Susunan Organisasi Kegiatan............................................................ 13
Lampiran 3. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana ................................................... 14


 PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Menyimak merupakan satu pengalaman belajar yang sangat penting bagi para siswa dan seyogyanya mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pengajar. Menyimak sebagai salah satu kegiatan berbahasa merupakan keterampilan yang cukup mendasar dalam aktivitas berkomunikasi. Dari pernyataan tersebut maka ketrampilan menyimak adalah satu bentuk ketrampilan berbahasa yang reseptif. Tujuan dari keterampilan menyimak sangatlah penting, karena tanpa kemampuan menyimak yang baik, akan terjadi banyak kesalah pahaman dalam komunikasi sesama pemakai bahasa, yang dapat mnyebabkan berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan sehari-hari. Dengan demikian menyimak sangat penting dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu kami akan mencoba menyusun konstribusi ilmu menyimak dalam peningkatan mutu KBM.
Dari latar belakang tersebut maka kami segenap anggota kelompok menyusun makalah dengan judul “EFEKTIVITAS MENYIMAK, PENYIMAK IDEAL, DAYA DUGA SIMAK, DAN MENINGKATKAN DAYA SIMAK” sebagai salah satu Tugas mata kuliah Keterampilan Berbahasa Indonesia serta sebagai panduan bagi pembaca untuk dapat menjadi referensi meningkatkan daya simak.














B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana efektivitas menyimak yang benar?
2.      Kriteria apa saja agar menjadi penyimak ideal?
3.      Apa yang dimaksud dengan daya duga simak?
4.      Bagaimana cara meningkatkan daya simak?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui efektivitas menyimak yang benar.
2.      Mengetahui kriteria menjadi penyimak ideal.
3.      Mengetahui yang dimaksud dengan daya duga simak.
4.      Mengetahui cara meningkatkan daya simak.






















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Eektivitas Menyimak
Efektivitas menyimak bergantung kepada sejumlah faktor. Salah seorang ahli bahasa mengklarifikasikan faktor-faktor itu menjadi empat bagian, yaitu:
a.       Pembicara
b.      Pembicaraan
c.       Situasi
d.      Penyimak
Pembicara adalah orang yang menyampaikan pesan, ide, informasi kepada para pendengar melalui bahasa lisan. Kualitas pembicara, keahliannya, karismanya, dan kepaopulerannya sangat berpengaruh kepada para pendengarnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pembicara antara lain:
  1. Penguasaan materi: Pembicara harus menguasai, memahami, menghayati, benar-benar materi yang akan disampaikannya kepada para pendengar. Akan lebih baik apabila pembicara adalah pakar, dalam bidang yang disampaikan tersebut.
  2. Berbahasa baik dan benar: Pembicara harus menyampaikan materi pembicaraannya dalam bahasa yang baik dan benar. Ucapan jelas, intonasi tepat, susunan kalimat sederhana dan benar, pilihan kata atau istilah tepat. Bahasa yang digunakan pembicara dalam menyampaikan materi pembicaraan menarik, sederhana, efektif, dan sesuai dengan taraf pendengarnya.
  3. Percaya diri: Pembicara haru percaya akan kemampuan diri sendiri. Pembicara yang yakin akan kemampuan dirinya akan tampil dengan mantap dan meyakinkan pendengar.
  4. Berbicara sistematis: Pembicara harus berbahasa sistematis. Bahan yang disampaikan harus tersusun secara sistematis dan mudah dimengerti.
  5. Gaya bahasa menarik: Pembicara harus tampil dengan gaya yang menarik dan simpatik. Yang bersangkutan harus menghindari tingkah laku yang dibuat-buat atau berlebih-lebihan. Pembicara yang terlalu “over acting” akan membuat pendengarnya beralih dari isi pesan yang disampaikan kepada tingkah laku yang dianggap aneh itu.
  6. Kontak dengan pendengar: Pembicara harus menjalin kontak dengan pendengarnya. Pembicara menghargai, menghormati, serta menguasai para pendengarnya.
Pembicaraan adalah materi, isi, pesan, atau informasi yang hendak disampaikan oleh seseorang pembicara kepada pendengarnya. Pembicaraan yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti:
(1) Aktual: pembicaraan haruslah sesuatu yang baru, hangat, dan aktual. Sesuatu yang baru pastilah lebih menarik, diminati, atau digandrungi oleh pendengar.
(2) Bermakna: Pembicaraan haruslah sesuatu yang berarti, berguna, atau bermakna bagi pendengar. Materi yang bermakna bagi kelompok pendengar A belum tentu bermakna bagi kelompok pendengar B.
(3) Dalam pusat minat mendengar: Pembicaraan haruslah yang berkaitan dengan pendengar. Akan lebih baik lagi bila pembicaraan itu berada dalam lingkaran pusat minat pendengar.
(4) Sistematis: Pembicaraan harus tersusun sistematis, sehingga mudah diikuti dan dipaham pendengar.
(5) Seimbang: Taraf kesukaran pembicaraan harus seimbang dengan taraf kemampuan pendengar. Materi pembicaraan yang terlalu mudah tidak menarik dan berguna bagi pendengar. Sebaliknya materi pembicaran yang terlalu tinggi akan membuat pendengar kewalahan.
Situasi dalam menyimak diartikan segala sesuatu yang menyertai peristiwa menyimak di luar pembicara, pembicaraan, dan menyimak. Situasi tersebut sangatlah berpengaruh dan menentukan kefektifan menyimak. Beberapa hal yan pantas diperhatikan, yang termasuk kategori situasi dalam proses menyimak, antara lain:
(1) Ruangan: Ruangan atau tempat berlangsungnya peristiwa menyimak harus menunjang. Ruangan yang menunjang adalah ruangan yang memenuhi persyaratan akustik, ventilasi, penerangan, penataan tempat duduk pendengar, tempat pembicara, warna ruangan, luas ruangan dan sebagainya.
(2) Waktu: waktu berlangsungnya peristiwa menyimak harus diperhatikan dan diperhitungkan sebaiknya pada saat yang tepat misalnya pagi-pagi, saat-saat pendengar masih segar, rileks, dan sebagainya.
(3) Tenang: Suasana dan lingkungan yang tenang, jauh dari kebisingan, pemandangan yang tidak mengganggu konsentrasi, suasana yang baik antar kelompok pendengar sangat menunjang keefektifan menyimak.
(4) Peralatan: Peralatan yang digunakan dalam peristiwa menyimak haruslah yang mudah dioperasikan, baik produksi suasananya dan berguna dalam melancarkan kegiatan menyimak.
Peristiwa menyimak yang berlangsung dalam ruangan yang baik, waktu yang tepat, suasana tenteram, nyaman, dan menyenangkan serta dilengkapi dengan peralatan yang fungsional dapat diharapkan hasilnya yang efektif.
Penyimak adalah orang yang mendengarkan dan memahami isi bahan simakan yang disampaikan oleh pembicara dalam suatu peristiwa menyimak. Dibandingkan dengan faktor pembicara, pembicaraan dan situasi, faktor penyimak adalah yang terpenting dan paling menentukan keefektifan dalam peristiwa menyimak. Sebab, walau ketiga faktor yang pertama sudah memenuhi segala persyaratan, bila si penyimak tidak mau menyimak maka sia-sialah semuanya. Sebaliknya biarpun ketiga faktor yang pertama kurang memadai, kurang sempurna, asal si penyimak berusaha sungguh-sungguh, tekun, dan kerja keras maka keefektifan menyimak dapat tercapai. Hal-hal yang perlu diperhatikan menyangkut diri penyimak antara lain:
(1) Kondisi: Kondisi fisik dan mental penyimak dalam keadaan baik dan stabil. Penyimak tidak mungkin menyimak secara efektif bila kondisi fisik dan mentalnya tidak menunjang.
(2) Konsentrasi: penyimak harus dapat memusatkan pikirannya terhadap bahan simakan. Buat sementara yang bersangkutan harus dapat menyingkirkan pikiran-pikiran lain selain bahan simakan.
(3) Bertujuan: penyimak harus mempunyai tujuan dalam mengkuti kegiatan menyimak. Yang bersagkutan harus dapat merumuskan tujuannya secara tegas sehingga ia mempunyai arah dan pendorong dalam menyimak.
(4) Berminat: Penyimak hendaknya berminat, atau mengusahakan meminati bahan yang disimaknya.
(5) Mempunyai kemampuan linguistik dan nonlinguistik. Penyimak haruslah memiliki kemampuan linguistik agar yang bersangkutan dapat menginterpretasi dan memahami makna yang terkandung dalam bunyi bahasa. Di samping itu penyimak juga harus memiliki kemampuan nonlinguistik. Kemampuan nonlinguistik berguna dalam membaca situasi, menafsirkan gerak-gerik pembicara, perubahan air mukanya, yang berfungsi sebagai pelengkap makna pembicaraannya.
(6) Berpengalaman luas dan berpengetahuan: penyimak juga harus memiliki pengalaman dan pengetahuan luas mendalam akan lebih mudah menerima, mencerna, dan memahami isi bahan simakan.
Penyimak yang dapat memenuhi persyaratan tersebut pasti berhasil dalam setiap peristiwa menyimak. Penyimak yang belum dapat memenuhi persyaratan tersebut jelas akan mengalami berbagai hambatan dalam menyimak.
B.     CIRI MENYIMAK IDEAL
Menyimak pernah dianggap dan diperlakukan oleh para ahli, guru bahasa, dan orang awam sebagai suatu hal yang akan dikuasai oleh manusia normal pada waktunya. Perlakuan demikian didasari oleh asumsi bahwa keterampilan menyimak akan dikuasai secara otomatis. Sebagai mana orang dapat bernafas tanpa mempelajari cara bernafas, begitu pula menyimak tidak perlu dipelajari karena pada saatnya orang akan dapat menyimak. Penelitian mengenai menyimak jarang dilakukan.
Lama-kelamaan para ahli menyadari bahwa asumsi yang dipegang selama ini mengenai menyimak, ternyata keliru. Manusia memang dilahirkan dengan potensi dapat menyimak. Namun, potensi itu perlu dikembangkan melalui latihan sistematis, terarah, dan berkesinambungan supaya menjadi kenyataan. Potensi itu akan tetap merupakan potensi bila tidak dipupuk, dikembangkan, atau dibina.
Mulai tahun lima puluhan, menyimak mulai banyak diperhatikan. Menyimak dengan segala aspeknya diteliti. Buku teks menyimak bermunculan. Pengajaran menyimak mulai diperhatikan. Bahkan lebih dari itu, menyimak diperlakukan sebagai mata pelajaran yang mandiri. Sebagai mata pelajaran yang mandiri, menyimak dilaksanakan tersendiri. Tujuan, bahan, metode, media, dan penilaian menyimak direncanakan, dilaksanakan, dan dinilai tersendiri pula.
Pengenalan, pemahaman, dan penghayatan ciri-ciri penyimak yang baik atau ideal sangat berguna bagi setiap penyimak. Bagi penyimak yang belum berpengalaman, pengetahuan tentang ciri penyimak ideal itu dapat digunakan sebagai pedoman dalam melatih diri menjadi penyimak yang ideal. Bagi penyimak yang sudah berpengalaman, pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai bahan perbandingan. Yang bersangkutaan dapat menggunakan hal yang dianggap perlu dan membuang hal yang dianggap tak perlu.
Dalam pokok bahasan faktor penentu keberhasilan dalam menyimak itu mencakup :
1.      Pembicara
2.      Pembicaraan
3.      Situasi
4.      Penyimak
Dari hasil pengamatan penulis, paling sedikit ada lima belas ciri penyimak ideal. Berikut ini akan disajikan ciri-ciri tersebut beserta penjelasannya.
(1)   Siap fisik dan mental
Penyimak yang baik adalah penyimak yang benar-benar bersiap untuk menyimak. Fisiknya segar, sehat, atau dalam kondisi prima. Mentalnya stabil, pikiran jernih.
(2)   Berkonsentrasi
Penyimak yang baik adalah penyimak yang dapat memusatkan perhatiannya kepada bahan simakan. Yang bersangkutan harus dapat menyingkirkan hal-hal lain selain materi simakan.
(3)   Bermotivasi
Penyimak yang baik selalu mempunyai motivasi yang kuat dalam menyimak. Yang bersangkutan mungkin mempunyai tujuan menambah pengetahuan, mau belajar tentang sesuatum mau menguji tentang sesuatu dan sebagainya. Hal itulah yang dijadikannya sebagai motivasi atau pemacu, pendorong, penggerak, dalam menyimak.
(4) Objektif
Penyimak yang baik adalah penyimak yang berprasangka, tidak berat sebelah. Yang bersangkutan bukan melihat siapa yang berbicara tetapi apa yang dikatakannya. Bila yang dikatakan itu memang benar, ia terima, bila salah, ia menolak siapapun yang mengatakannya.
(5) Menyeluruh
Penyimak yang baik ialah penyimak yang menyimak bahan simakan secara lengkap, utuh, atau menyeluruh. Ia tidak menyimak meloncat-loncat ataupun terputus-putus, atau hanya menyimak yang disenangi saja.
(6) Menghargai pembicara
Penyimak yang baik ialah penyimak yang menghargai pembicara. Ia tidak menganggap enteng, menyepelakan apa yang disampaikan oleh pembicara. Ia pun tidak mengaggap diri tahu segalanya dan pengetahuannya melebihi pembicara. Penyimak yang baik selalu menghargai pendapat pembicara, walaupun mungkin pendapat itu berbeda dengan pendapatnya.
(7) Selektif
Penyimak yang baik tahu memilih bagian-bagian penting dari bahan simakan yang perlu diperhatikan dan diingat. Tidak semua bahan yang diterima ditelinga mentah-mentah, tetapi dipilihnya bagian–bagian yang bersifat inti.
(8) Sungguh-sungguh
Penyimak yang baik selalu menyimak bahan simakan dengan sesungguh hatinya. Ia tidak akan berpura-pura menyimak padahal hatinya dan perhatiannya ke tempat lain. Yang bersangkutan benar-benar menyimak pesan pembicara walau pesan itu kurang menarik baginya.
(9) Tak mudah terganggu
Penyimak yang baik tak mudah diganggu oleh hal-hal lain di luar bahan simakan. Yang bersangkutan dapat membentengi diri dari berbagai gangguan kecil seperti kebisingan. Kalaupun sekali waktu ia mendapat gangguan yang tak terelakan, ia dengan cepat kembali kepada tugas semula, yakni menyimak.
(10) Cepat menyesuaikan diri
Penyimak yang baik ialah penyimak yang tanggap terhadap situasi. Ia cepat menghayati dan menyesuaikan diri dengan inti pembicaraan, irama pembicaraan, dan gaya pembicara.
(11) Kenal arah pembicaraan
Penyimak yang baik selalu mengenal arah pembicaraan, bahkan sudah dapat menduga ke arah mana pembicaraan berlangsung. Biasanya, pada menit-menit pertama awal pembicaraan, penyimak yang baik sudah mengetahui arah pembicaraan dan barangkali sudah dapat menduga isi pembicaraan.
(12) Kontak dengan pembicara
Penyimak yang baik selalu mengadakan kontak dengan pembicara. Misalnya dengan cara memperhatikan pembicara, memberikan dukungan atau dorongan kepada pembicara melalui ucapan singkat, ya, ya benar, saya setuju, atau saya sependapat, dan sebagainya. Hal yang sama dapat pula disampaikan melalui gerak-gerik tubuh seperti mengagguk-angguk, mengacungkan jempol dan sebagainya.
(13) Merangkum
Penyimak yang selalu dapat menangkap sebagian besar isi bahan simakan. Hal itu terbukti dari hasil rangkuman penyimak yang disampaikan secara lisan atau tertulis setelah proses menyimak selesai.
(14) Menilai
Penyimak yang baik selalu menilai, menguji, mengkaji, atau menelaah isi bahan simakan yang diterimanya. Fakta yang diterima dikaitkan atau dibandingkan dnegan pengetahuan dan pengalamannya.
(15) Merespons
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan penilaian hasil simakan, penyimak menyatakan pendapat terhadap isi pembicaraan tersebut. Yang bersangkutan mungkin setuju atau tidak setuju, sependapat atau tidak sependapat dengan si pembicara. Reaksi atau tanggapan penyimak itu dapat berwujud dalam bentuk mengagguk-angguk, menggeleng-geleng, mengerjakan sesuatu, dan sebagainya.
Ciri-ciri penyimak ideal biasanya diterapkan kepada orang lain. Artinya, bila seseorang menilai apakah orang lain penyimak ideal atau tidak, maka penilai memeriksa karakteristik penyimak yang dinilainya. Patokan penilaian adalah ciri penyimak yang sudah dibicarakan.

C.     DAN DUGA DAYA SIMAK
Ada kalanya seseorang ingin pula menilai, mengetahui, dan mendapat gambaran kemampuan menyimaknya. Tentang hal itu dia tidak ingin dicampuri atau diketahui orang lain. Keinginan seperti itu dapat dipenuhi melalui “Checking up on my listening”, yang disadur secara bebas menjadi duga daya simak diri.
Duga daya simak diri berisi sebelas pertanyaan pada diri sendiri yang dapat dijawab dengan ya atau tidak. Bila semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan ya, artinya Anda mempunyai daya simak tinggi. Sebaliknya bila pertanyaan itu dijawab tidak, Anda mempunyai daya simak yang rendah. Pertanyaaan tersebut yaitu:
1. Siapkah saya untuk menyimak?
(1) Sudahkah saya duduk di tempat yang nyaman dna strategis sehingga saya dapat melihat dan mendengarkan si pembicara
(2) Terarahkah pandangan saya kepada pembicara?
2. Berkonsentrasilah saya terhadap pembicaraan yang akan disampaikan?
(1) Dapatkah menyingkirkan pikiran lain pada saat ini?
(2) Siapkah saya memikirkan topik pembicaran dan menghubungkannya dengan pengetahuan siap saya mengenai hal itu?
(3) Bersiapkah saya belajar lebih lanjut mengenai topik yang akan disampaikan?
3. Siapkah saya memulai menyimak?
(1) Pada menit-menit pertama, sadarkah saya ke mana dibawa oleh pembicara?
(2) Dapatkah saya temukan ide pusat sehingga saya dapat mengikutinya sepanjang pembicaraan?
4. Dapatkah saya temukan ide penunjang ide pusat atau pokok?
(1) Saya manfaatkankah petunjuk-petunjuk pembicara (seperti yang pertama, yang terpenting dan sebagainya) guna membantu menyusun ide-ide dalam pikiran saya?
5. Setalah pembicaraan selesai, sudahkah saya evaluasi pembicaraan pembicara?
(1) Sesuaikah pengetahuan baru itu (hasil simakan) dengan pengetahuan siap saya?
(2) Saya pertimbangkan setiap ide yang disampaikan pembicara sehingga saya dapat mengatakan setuju atau tidak setuju dengan pembicara?
(Diterjemahkan secara bebas dari Checking up on my listening, yang dimuat dalam Greene&Petty, 1969:182)
D.    MENINGKATKAN DAYA SIMAK
Setiap manusia dilahirkan dengan sejumlah potensi. Salah satu potensi pembawaan sejak lahir itu adalah potensi mampu menyimak. Potensi harus dibina dan dikembangkan. Melalui latihan menyimak yang terarah dan berkesinambungan, potensi tadi dapat berwujud menjadi kemampuan menyimak yang nyata. Tanpa pembinaan dan pengembangan, potensi tersebut tetap berupa potensi tertutup. Tidak timbuh, ataumati.
Walaupun manusia berlatih menyimak, kemampuan menyimaknya terbatas. Keterbatasan itu disebabkan oleh daya tangkapnya yang terbatas dan daya ingatannya terbatas pula. Para ahli memperkirakan orang yang cukup mendapat latihan menyimak, dalam kondisi fisik yang segar dan mental yang stabil, hanya dpat menangkap isi bahan simakan 50%. Dalam dua bulan berikutnya yang diingat hanya setengahnya. Mungkin dalam dua bulan berikutnya sisanya sudah menghilang pula.
Menyimak sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Melalui menyimak seseorang memperoleh kemungkinan besar mendapatkan informasi. Para ahli berpendapat bahwa sebagian besar dari pengetahuan seseorang dan nilai-nilai yang diyakininya diperoleh melalui kegiatan menyimak. Karena itu sangatlah beralasan bila setiap orang dituntut terampil menyimak.
Kawolda, seorang ahli, menawarkan lima cara untuk mempertajam daya simak. Kelima cara tersebut adalah:
1.      Simak-Ulang Ucap
Kegiatan menyimak dengan cara simak lalu di ucapkan kembali apa yang didengar, sering dilakukan atau dipraktekkan oleh guru pada sekolah dasar di kelas-kelas rendah. Cara ini pun dapat di praktekkan pada kelas tinggi dengan menyesuaikan bahan dengan taraf kemampuan siswanya.
Bahan simakan dapat bervariasi mulai dari fonem, kata, kelompok kata,kalimat, paragraph, atau puisi-puisi pendek. Bunyi bahasa atau bahan simakan itu disampaikan secara lisan oleh guru. Siswa menyimak dan mengucapkan kembali apa yang disimaknya. Contoh :
                                i.            Fonem
Guru    : ( a ) ( i )
Siswa   : ( a ) ( i )
                              ii.            Kata
Guru    : Bola
Siswa   : Bola
                            iii.            Kalimat
Guru    : Selamat pagi, Ibu Guru!
Siswa   : Selamat pagi, Ibu Guru!
                            iv.            Puisi
Guru    : Bangun Pagi, ku gosok gigi
Siswa   : Bangun Pagi, ku gosok gigi

2.      Identifikasi Kata Kunci
Isi kalimat yang panjang dapat dicari pada kalimat intinya. Kalimat inti dibangun oleh beberapa kata kunci yang terdapat dalam kalimat panjang tersebut. Guru mempersiapkan kalimat panjang yang struktur dan pilihan katanya sesuai dengan kemampuan siswanya. Siswa menyimak, setelah itu siswa menentukan beberapa kata kunci yang dapat mewakili pengertian kalimat.
3.      Parafrase
Guru mempersiapkan sebuah puisi yang pantas disajikan di kelas tertentu. Guru membacakannya dan siswa menyimak, kemudian siswa menceritakan kembali isinya dengan kata-kata sendiri.


4.      Merangkum
Guru mempersiapkan bahan simakan yang panjang. Materi bahan, bahasa dan panjangnya disesuaikan dengan kemampuan siswa. Bahan disampaikan secra lisan kepasa siswa, siswa menyimak dan merangkum isinya.
5.      Menjawab Pertanyaan
Guru mempersiapkan bahan simakan. Materi bahan, bahasa dan panjangnya disesuaikan dengan kemampuan siswa. Bahan disampaikan secara lisan kepada siswa kemudian siswa menyimak dan menyaring isi bahan simakan melalui jawaban pertanyaan.



DAFTAR PUSTAKA

file://Gado-gadoBlogHakikatMenyimak.htm

MAKALAH KETERAMPILAN MENYIMAK (Bahasa Indonesia)



MAKALAH
KETERAMPILAN MENYIMAK
Makalah ini untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Drs. Suwandi, MPd.

Penyusun:
1.            Anisatul Mahmudah (1401415187)
2.            Abdul Aziz (1401415322)
3.            Alief Alfullayali (1401415310)


Fakultas Ilmu Pendidikan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar UPP Tegal
Universitas Negeri Semarang
2016


PRAKATA

            Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah “KETERAMPILAN MENYIMAK” dapat terselesaikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Soewandi, MPd., selaku dosen mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia yang telah memberikan ilmunya kepada penulis, dan teman- teman yang banyak memberikan masukkan dan informasi, juga kepada semua pihak yang tidak dapat  disebutkan satu per satu.
Saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan makalah ini agar dalam penulisan makalah selanjutnya bisa lebih baik dari makalah sekarang.Semoga makalah ini memberi manfaat bagi yang membacanya.

            Tegal, 9 Maret 2016
                                                                                                                                               
Penulis                    `          









DAFTAR ISI
Kata Pengantar           ……………………………………………………    i
Daftar Isi         ……………………………………………………………    ii
BAB I PENDAHULUAN     ……………………………………………    1
A.      LatarBelakang      ……………………………………………………    1
B.       Rumusan Masalah            ……………………………………………    2
C.       Tujuan      ……………………………………………………………    2
D.      Manfaat                ……………………………………………………    2
BAB II PEMBAHASAN      …………………………………………….   3
A.      Penertian Menyimak        …………………………………………….   3
B.       Tujuan Menyimak.           ……………………………..………………  4
C.       Jenis-jenis Menyimak       ……………………………………………    4
D.      Unsur-unsur Menyimak   …...……………………………………….    10
E.       Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak     ……………..  12
BAB III PENUTUP
A.      Kesimpuulan        ……..………………………………………………  13
DAFTAR PUSTAKA            ….………………………………………….  14


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Istilah mendengarkan, mendengar, dan menyimak sering kita jumpai dalam dunia pengajaran bahasa, lebih-lebih dalam pengajaran keterampilan berbahasa. Satu hal yang sudah disepakati bersama ialah bahwa ketiga istilah itu berkaitan dengan dalam makna. Namun dalam mengartikan makna istilah tersebut satu persatu, mulai muncul perbedaan pendapat.  Ada yang menganggap mendengarkan sama dengan menyimak. Kedua duanya dapat dipertukarkan dengan makna yang sama. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa pengertian mendengarkan dan menyimak tidak sama. Artinya masing masing istilah itu berdiri sendiri dengan makna yang berbeda pula.
Peristiwa mendengar, biasanya, terjadi secara kbetulan, tiba-tiba, dan tidak diduga sbelumnya. Karena itu kegiatan mendengar tidak direncanakan. Apa yang didengar mungkin tidak dimngerti maknanya dan mungkin pula tidak menjadi perhatan sama sekali. Mendengarkan setingkat lebh tinggi tarafnya dari mendengar. Mendengarkan sudah mencakup mendengar. Di antara ketiga istilah, mendengar, mendengarkan, dan menyimak, taraf tertinggi diduduki istilah menyimak. Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bahka lebih dari itu faktor perhatian, penilaian pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak. Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan adalah ada alasan tertentu mengapa yang bersangkutan meyimak. Alasan inilah yang  kita sebut sebagai tujuan menyimak.





B.     Rumusa Masalah
1.      Apa pengertian menyimak?
2.      Apa tujuan menyimak?
3.      Apa saja jenis-jenis menyimak?
4.      Apa unsure yang harus aada pada kegiatan menyimak?
C.     Tujuan
Dengan dibuatnya makalah ini bertujuan sebagai:
1.      Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ketrampilan Bahasa Indonesia
2.      Mengetahui perbedaan antara mendengar, mendengarkan, dan menyimak
3.      Mengetahui tujuan dalam kegiatan menyimak
4.      Mengetahuinjenis-jenis menyimak
5.      Mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada menyimak
D.    Manfaat
Manfaat yang bisa diperoleh dari penyusunan makalah ini :
1.      Sebagai media untuk belajar, karena untuk mencari materinya bisa berasal dari sumber lain seperti buku ataupun browsing.
2.      Melatih kedisiplian karena harus selesai tepat waktu.
3.      Mengembangkan pikiran kita untuk tidak terpaku pada satu sumber referensi saja.












BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Menyimak
Menurut para ahli
Ø  Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (panduan bahasa dan sastra Indonesia, Natasasmita Hanapi, Drs.; 1995: 18)
Ø  Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan; 1991: 4).
Ø  Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan-lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan”. (Tarigan: 1983)
Ø  Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya”.(Sabarti –at all: 1992).
Jadi  menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengrkan, mengidentifikasi bunyi bahasa, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.
Dalam setiap fase menyimak diperlukan kemampuan tertentu yang dikenal dengan istilah kemampuan penunjang menyimak, antara lain:
1.      Kemampuan memusatkan perhatian
2.      Kemampuan Mengingat
3.      Kemampuan Menangkap bunyi
4.      Kemampuan Linguistic
5.      Kemampuan Non linguistic
6.      Kemampuan Menilai
7.      Kemampuan menanggapi
B.     Tujuan Menyimak
Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang tersirat dalam bahan simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Menyimak memperoleh fakta
2.      Untuk menganalisis fakta
3.      Untuk mengevaluasi fakta
4.      Untuk mendapatkan inspirasi
5.      Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri
6.      Meningkatkan kemampuan berbicara

Menyimak sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Karena itu tidaklah mengherankan apabila aktifitas menyimak selalu melebihi kegiatan berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak berperan sebagai:
1.      Landasan belajar berbahasa
2.      Penunjang keterampilan berbahasa lainnya
3.      Pelancar komunikasi lisan
4.      Penambah informasi.

C.     Jenis-jenis Menyimak
Apabila kita membaca dan memperhatikan berbagai buku literature mengenai menyimak, maka akan ditemui jenis dan nama menyimak. Misalnya menyimk terputus-putus, menyimak dangkal, menyimak sekelumit, menyimak sosial, menyimak krits, menyimak reponsif, dan sebagainya. Keanekaragaman nama menyimak disebabkan oleh pengklasifiksin menyimak dengan titik pandang yang berbeda.
Menurut pengamatan penulis, ada 7 titik pandang yang digunkan sebagai dasar pengklsifiksian menyimak, antara lain: sumber suara, taraf aktifitas penyimak, taraf hasil simakan, keterlibatan penyimak, dan kemampuan khusus, cara penyimakan dan bahan simakan, ujuan menyimak, tujuan spesifik. Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
1.      Sumber suara
Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
Ini terjai di saat kita menyendiri, merenungkan nasib diri, menyesali perbuatan sendiri, berkata-kata dengan diri sendiri.
b. Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi
Menyimak yang seperti ini ang paling bnyak kita lakukan, misalnya dalam percakapan, diskusi, seminar, dan sebagainya.
2.      Cara penyimak bahan yang disimak
Berdasarkan pada cara penyimakan bahan yang disimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
a.       Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah penyimak memahami isi bahan simakan secara sepintas, umum, dalam garis-garis besar. Menyimak ekstensif meliputi:
1) Menyimak sosial
Menyimak sosial dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial, seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. Kegiatan menyimak ini lebih menekankan pada faktor status sosial, unsur sopan santun. dan tingkatan dalam masyarakat. Misalnya: Seorang anak jawa menyimak nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran.
2) Menyimak sekunder
Menyimak sekunder terjadi secara kebetulan. Misalnya, jika seorang pembelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orng lain, suara siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara tersebut.
3) Menyimak estetik
Menyimak estetika sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika ialah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu. Misalnya, menyimak pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, syair lagu, dan sebagainya. Kegiatan menyimak itu lebih menekankan aspek emosional penyimak seperti dalam menghayati dan memahami sebuah pembacaan puisi. Dalam hal ini, emosi penyimak akan tergugah, sehingga timbul rasa senang terhadap puisi tersebut. Demikian pula pembacaan cerita pendek. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang pengarang terkenal Gunawan Mohammad yang sering membacakan cerpen-cerpennya melalui radio. Banyak remaja mendengarkan pembacaan tersebut. Para remaja tampaknya dapat menikmati dan menghayati cerpen yang dibacakan tersebut.
4) Menyimak Pasif
Menyimak pasif ialah menyimak suatu bahasan yang dilakukan tanpa upaya sadar. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir memahami pesan dalam bahasa daerah tersebut. Kemudian, dia mahir pula menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak pasif. Namun, pada akhirnya, orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik. Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif terjadi karena kebetulan dan ketidaksengajaan.

b.       Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.Ciri-ciri menyimak intensif adalah:
1)      Menyimak dengan memahami makna pembicaraan
2)      Memerluhan konsentrasi tinggi
Konsentrasi ialah memusatkan sermua gejala jiwa seperti pikiran, perasaan, ingatan, perhatian, dan sebagainya kepada salah satu objek. Agar penyimak dapat melakukan konsentrasi yang tinggi, maka perlu dilakukan, dengan beberapa cara, antara lain menjaga agar pikiran tidak terpecah, perasaan tenang dan tidak bergejolak, perhatian. terpusat pada objek yang sedang disimak, penyimak harus mampu menghindari berbagai hal-hal yang dapat menggangu kegiatan menyimak, baik internal maupun ekstenal.
3)  Memahami bahasa formal
4)  Menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan.
Reproduksi ialah kegiatan mengungkapkan kembali sesuatu yang telah dipahami. Untuk membuat reproduksi dapat dilakukan secara lisan (berbicara) dan tulis (menulis, mengarang). Reproduksi dilakukan setelah menyimak. Fungsi reproduksi itu antara lain:
1.      Mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan berbicara
2.      Mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan menulis atau mengarang
3.      Mengetahui kemampuan daya serap seseorang
4.      Mengetahui tingkat pemahaman seseorang tentang bahan yang telah disimak.
Menyimak intensif meliputi:
1)      Menyimak kritis: Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara, misalnya dalam diskusi,   perdebatan, dan lain-lain.
2)      Menyimak introgatif. Kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut.
3)      Menyimak eksploratif. Kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru.
4)      Menyimak kreatif. Kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas pembelajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau bahasa daerah, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda. bahasa Jerman. dan sebagainya, mengemukakan gagasan yang sama dengan pembicara. namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang berbeda, merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar materi yang telah disimak.
5)      Menyimak konsentratif. Kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang disimak. Kegiatan menyimak konsentratif bertujuan untuk mengikuti petunjuk-petunjuk, mencari hubungan antarunsur dalam menyimak, mencari hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen, mencari butir-butir informasi penting dalam kegiatan menyimak, mencari urutan penyajian dalam bahan menyimak, dan mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak (Kamidjan,2001:23).
6)      Menyimak selektif. Menyimak selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus untuk mengenal, bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk, bahasa yang sedang dipelajarinya. Menyimak selektif memiliki ciri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan menyimak yang lain. Adapun ciri menyimak selektif ialah:
(a)    Menyimak dengan saksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan
(b)    Menyimak dengan memperhatikan topik-topik tertentu
(c)    Menyimak dengan memusatkan pada tema-tema tertentu.

            Tidyman & Butterfield mengklasifikaikan menyimak atas dasar tujuan menyimak. Hasil pengklasifikasian menghasilkan tujuh jenis menyimak yaitu:
1)      Menyimak sederhana: Terjadi dalam percakapan dengan teman atau bertelepon.
2)      Menyimak diskriminatif: Menyimak untuk membedakan suara dan perubahan suara.
3)      Menyimak santai: Menyimak untuk tujuan kesenangan.
4)      Menyimak informatif : menyimak untuk mencari informasi.
5)      Menyimak literatur : menyimak untuk mengorganisasikan ide.
6)      Menyimak kritis: menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara.


c.       Taraf aktivitas penyimak
  Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:
  1) Kegiatan menyimak bertaraf rendah( silent listening )
Penyimak baru sampai pada kegiatan memberikan dorongan, perhtian,dan menunjang pembicaraan. Biasana aktifitas itu bersifat non verbal   seperti mengangguk angguk, senyum, sikap tertib dan penuh perhtian dan sebagainya.

2) Kegiatan menyimak bertaraf tinggi( active listening ): Penyimak sudah dapat pengutarakan kembali isi bahan smakan.

D.    Unsur Unsur Menyimak
Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada berbagai unsur yang mendukung. Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah unsur pokok yang menyebabkan timbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain. Unsur-unsur dasar menyimak ialah  pembicara, penyimak, bahan simakan, dan bahasa lisan yang digunakan. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing unsur itu.
1.         Pembicara: Yang dimaksudkan dengan pembicara ialah orang yang menyampaikan pesan yang berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak. Dalam komunikasi lisan, pembicara ialah narasumber pembawa pesan, sedang lawan bicara ialah orang yang menerima pesan (penyimak).
2.         Penyimak. Penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak yang baik ialah penyimak yang dapat melakukan kegiatan menyimak dengan intensif.
3.         Bahan Simakan. Bahan simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak. Yang dimaksudkan dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam komunikasi. Untuk menghindari kegagalan, perlu dikaji ulang.Bahan simakan dengan cara berikut:
a.       Menyimak Tujuan Pembicara
Langkah pertama penyimak dalam melakukan kegiatan menyimak ialah mencari tujuan pembicara. Jika hal itu telah dicapai, ia akan lebih gampang untuk mendapatkan pesan pembicara. Jika hal itu tidak ditemukan, ia .akan mengalami kesulitan. Tujuan yang akan dicapai penyimak ialah untuk mendapatkan fakta, mendapatkan inspirasi, menganalisis gagasan pembicara, mengevaluasi, dan mencari hiburan.
b.      Menyimak Urutan Pembicaraan
Seorang penyimak harus berusaha mencari urutan pembicaraan. Hal itu dilakukan untuk memudahkan penyimak mencari pesan pembicara. Walaupun pembicara berkata agak cepat, penyimak dapat mengikuti dengan hati-hati agar mendapatkan gambaran tentang urutan penyajian bahan. Urutan penyajian terdiri atasa tiga komponen, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan lingkup permasalahan yang akan dibahas. Bagian isi terdiri atas uraian panjang lebar permasalahan yang dikemukakan pada bagian pendahuluan. Pada bagian penutup berisi simpulan hasil pembahasan.
c.       Menyimak Topik Utama Pembicaraan
Topik utama ialah topik yang selalu dibicarakan, dibahas, dianalisis s pembicaraan berlangsung. Dengan mengetahui topik utama, penyimak memprediksi apa saja yang akan dibicarakan dalam komunikasi tersebut. penyimak satu profesi dengan pembicara, is tidak akan kesulitan untuk mener topik utama. Sebuah topik uta.-na memiliki ciri-ciri: menarik perhatian pen) bermanfaat bagi penyimak, dan akrab dengan penyimak.


d.      Menyimak Topik Bawahan
Setelah penyimak menemukan topik utama, langkah selanjutnya ialah mencari topik-topik bawahan. Umumnya pembicara akan membagi topik utama itu menjadi beberapa topik bawahan. Hal itu dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat dengan mudah dicerna oleh penyimak. Penyimak dapat mengasosiasikan topik utama itu dengan sebuah pohon besar, topik bawahan ialah dahan dan ranting pohon tersebut. Dengan demikian penyimak yang telah mengetahui topik utama, dengan mudah akan mengetahui topik-topik bawahannya.
e.       Menyimak Akhir Pembicaraan
Akhir pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan, dan saran-saran. Jika pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak ialah mencermati rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pem bicara menyampaikan simpulan, maka penyimak mcncocokkan catatannya dengan simpulan yang disampaikan pembicara. Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang simpulan. yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak. Jika pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan himbuan itu secara cermat dan teliti.

E.     Faktor yang Mempenaruhi Keberhasilan Menyimak
Menurut pendapat Rost (1991:108) bahwa faktor-faktor yang penting dalam keterampilan menyimak dalam kelas adalah siswa menuliskan butir-butir penting bahan simakan terutama yang berhubungan dengan bahan simakan.
Pendapat lain menurut Tarigan (1994:62), komponen/faktor-fantor penting dalam menyimak adalah sebagai berikut:

1.      Membedakan antar bunyi fonemis.
2.      Mengingat kembali kata-kata.
3.      Mengidentifikasi tata bahasa dari sekelompok kata.
4.      Mengidentifikasi bagian-bagian pragmatik, eskpresi, dan seperangkat penggunaan yang berfungsi sebagai unit sementara mencari arti/makna.
5.      Menghubungkan tanda-tanda linguistik ke tanda-tanda para linguistik (intonasi) dan ke nonlinguistik (situasi yang sesuai dengan objek supaya terbangun makna, menggunakan pengetahuan awal (yang kita tahu tentang isi dan bentuk dan konteks yang telah siap dikatakan untuk memperkirakan dan kemudian menjelaskan makna.
6.      Mengulang kata-kata penting dan ide-ide penting.










BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan, mengidentifikasi bunyi bahasa, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Untuk mencapai hasil yang maksimal, diperlukan kemampuan penunjang menyimak. Adapun tujuan dari menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.











DAFTAR PUSTAKA
1.      Drs. Tarigan, Djago. Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan  Pendidikan Tinggi, 1991.